Showing posts with label jakarta. Show all posts
Showing posts with label jakarta. Show all posts

Sunday, 15 November 2009

SEJARAH JAKARTA - Kanto I


and in the year 2009 basi zeke khaseli was a boylien
    concocting loops of strawberry fields forever
    magical mystery tour of kebayoran baru dan sekitarnya
                 his latest solo project
        weekly downloads at zekekhaseli.com
        poet and song-destroyer
            better than his band
            or @Leonardoringo
while the rest of the cityliens
busy twittering their lives away
        JNE man delivered darthvader unleashed to @curlylainbow's door
    rain in november
@yoshife writing haikus on his job descs
    laughing at unnameables catfighting on plurk
#pantaikecil
he made it at last
@ZekeKhaseli
    on his own
        sans TOA
        sans pig masks
        sans a tank in the background
selamat ya tante
kurusan sekarang
bajingan tenan
            dan mengantarkan ekstasi ke teman
tak ada artinya
dibanding matahari yang pecah di binaria
menghunjamkan kedua kaki ke dalam AP boots
melindungi mata kaki dari lebam kobis busuk
dan sabut kepala di aspal
        kan bisa pake loop
sabtu itu playground
dan manusia manusia dar berbagi pelangi
                    rajawali hitam
                      hoffman
                dan candyman
hadiah ulang tahun paling hacep tahun ini
        serentetan kutipan dari chairil @edophilia dan si possum
biarlah orang tidak mengerti yang penting happy
            ini akan menjadi puisi epik tentang kota dan cinta matiku padanya
#kataudin telah merajalela
dengan melek sadis
LEKDIS
dan gaya sepa
ada pantulan manja di dahinya
ada pantura manja di dahinya
kemudian jika @jokoanwar kembali mereka sebuah #trendingtwoppic
semudah membalik pantat
    kota kembali hujan RT
        dan twitter police
menunggu kemurahan hati @fanabis
kemarahan pondok labu @mumualoha
#cumadiciledug @Destesita
sementara bekasi
telah pindah ke pos tumben
lihat saja di google earth
pin  a 1967 vespa super on the roof of the joglo superindo
it took me seven pancious original pancakes to understand you
and your javanadian concept of sehidup semati
LEKDIS!
i truly envied the musicality of your multiply posts
the easy indolish haceppity
the lack of gengsi
unlike @clovique
who made me frown
question the sanity of durga tattoo
if the artery of this city really lies in cikini
she lies
turning her back on co-dependency
and a series of coolies as boyfriends
    had fun in bali though
a year with a ripe pumpkin
and random calls from teman yang bertepuk sebelah tangan at 3 a.m.
to hear stars shooting in the dark of her kos
    PJ and MJ collapsed in downstairs bedroom reading stephen dixon's I.
        misunderstanding lorrie moore's puns for reality
        mencari remah-remah hati dalam rené char
        siapa tahu bisa menunjukkan jalan pulang
            tapi perlu ouvres complètes
        untuk mengerti efek alcools
        dan pengaruh valery
        pada peradaban
        kan bisa pake loop
dan anak-anak ahensi pun berlomba pitching sofistikasi
so sophistic !
    tentang logat tegal sopir mobil rental
        dan #twitterstory tentang bersetubuh dengan mayat suami
        sudah 40 hari
        dan kontolnya masih kenyal
malam-malam di rumah retak
    mulut menganga menonton casper dengan lengan baju yang menyala-nyala
    dan kijang ber-coat of arms singa
the three lions of bosnia-hergovina
dan @blackuniverse menerima telpon di tengah-tengah usaha berhenti
                                    menembus tembok
yes ive got a question mr kubrick !
kenapa aku merasa seperti berada di luar angkasa ?
dan kuping pun mendengung dengan ambekan pacar di somalia
tentang proyek air bersihnya yang gagal di eritrea
dan kapan mereka akan beli kamera lomo
yang tak akan membuat hidup terasa
slo-mo
basi lo
        kan bisa pake loop
mendownload berjuta-juta ikhtiar dari gigapedia
mencari bagaimana cara terefektif meng-convert .lit menjadi a picture of a clit
yours baby
alamakjan
ia ngorok seperti buto !
lihat #jaemanis !
datukmu tertidur kelelahan setelah semalaman mengusung duka
puisi tidak seharusnya dibacakan di stasiun kereta api
maupun ditulis di wc
atau dijadikan mainan bayi
puisi itu agung
adiluhung
makkethungthung
    sak karepmulah bambang lintang sugianto !
    nek mung arep njaluk duik rasah nggambleh dhisik !
ra ilok
jaréné
        dan anggoro gunawan pun menghilang
        di tepian sirkuit sentul katanya
        tidak seperti antasena
        ia tidak bisa membunuh luka
        hanya dengan menghentakkan kakinya
        begitu juga holiday_sendiri
        mereka semua telah menjilat jejaknya sendiri
        dan mati
        seperti antareja
sungguh martirdom yang membuat dada busung dengan bangga
di mana lagi aku akan bisa membaca tentang seorang pekerja LSM lokal
menggerus aspirin dalam sendok teh dengan ibu jari
pada pukul 4 pagi ?
            di pedalaman aceh yang nggegirisi
            katanya
            jawa koh takue !
kembali kepada fiction as history
        fungsi RT sebagai pemersatu
        sekaligus pembelah
        tidak semua orang mendapatkan fasilitas Retweet (BETA)
        selangka undangan Google Wave kepada orang yang tidak hip
jikalau kemudian ia memindahkan semua figurine koleksinya
ke dalam hati binyonya
siapa yang akan xoxo egonya ?
jika memang masih au fait dengan bencana
        kan bisa pake loop
bagaimana bisa jika macbookpro telah digasak pencoleng
    di siang bolong
gunting besi dan gembok karatan
        pintu laundry yang gentayangan
            hidup di citylien ini sungguh seperti sebuah short story
            abdullah harahap !
            short
            gothic-y
            a possessed girl pissing in your face
            worms eating your vitals
            all a dead metaphor for
            the dead
            presumably
        kan bisa pake loop
membaca the (annotated) waste land
lengkap dengan facsimile jiwa wilfred owen
deru campur debu sebagai sampul buku
didn’t really work
mungkin diperlukan semacam footnote untuk menjelaskan endnote
yang bisa dijual oleh valerie eliot
kepada faber and gwyer
posthumously
semuanya bisa diatur
dalam thick description
apalagi think description
sementara negara semakin mendekati level middle earth
sejenak sebelum sauron menjadi the eye
dan bunga matahari tumbuh di dada-dada orcs yang gosong
sam menggauli frodo
lidah pink di sekeliling ring
oh your precious
suatu hari berhenti dengan hujan
dan lampu send online yang menolak menyala
padahal selalu receive
dan pc/activity pun selalu standby
    nanggung
        belkibolang 250.000
USURA
how right he was
how prescient
il miglior fabbro
the better medicine man
        kan bisa pake loop




Thursday, 12 November 2009

rainbow white a


For Edo Wallad
il miglior fabbro.



tergoda romantisme kota
mengantar ekstasi
kepada teman di ratu plaza
selamat ulang tahun
semoga hidupmu penuh pelangi
ah
rezeki pasti datang kembali
jawabku
pada pertanyaannya
kenapa begitu murah hati
jika tua
aku tak ingin dikoyak-koyak sepi
lebih baik punya memori
tentang jakarta
kaki-kaki emas
dibungkus jas hujan



Monday, 24 August 2009

Sepanjang Malam


Tapi satu malam di sebuah pesta ajojing di gedung Harmonie Nyonya Nomeydal bertemu dengan Tuan Ladyemon, yang bertaring pedang. Nyonya Nomeydal tetap tersenyum tenang, percaya dengan kesaktiannya melumerkan tulang belakang pria hidung belang. Tapi di pucuk hidung Tuan Ladyemon, hanya ada komedo yg mulai menghitam.



Tuesday, 17 June 2008

Their City Jakarta*


* aeons ago i joined the Asia Blogging Network when they promised me free space on their 'My City Blogging Channel' to write whatever i wanted about jakarta. whatever ! my city ! ha ! the followings are writings i did for them that they subsequently unilaterally without any prior or after the fact notification took off the blog and labeled 'private', true stories about this city that you proles can never ever read. until now :


Private: no time 4 verse
Oleh mikael_johani January 14th, 2008 pukul 12:14 pm

manymoonsagoafterpitchersofheinekenandplatesoftacosatchilisstadium! cheapesexorbitantnomineralwaterthreehourslater: therooftopof mangga besar!

a tiny room with a 10-inch polytron, prayermatscoveredinimentoswrappers, t h   e n     e       on G L   O R    Y rimbaud had not the chance to see.*

*arthur rimbaud visited batavia in early august-early december 1876 as an enlister in the dutch colonial army.


Private: radit hearts jani not
Oleh mikael_johani January 14th, 2008 pukul 12:06 pm

in the year 2058 people will ask:

whatever happened to janis leopard print boots?

how could anyone decipher vino gs glottal shouts?

the green velvet seats in the second hand japanese buses look pretty though

and the early morning sunshine on faharanis face as she thought of

future ice cream dates at dilapidated cikini bodega hang outs

—free wi fi

makes you think

this city is all sweetness and lite

when theres no desire left in you

to stand up and fight.


Private: bermain layang layang di taman kompleks penuh kambing kambing kecil mencari makan di hari pertama 2008
Oleh mikael_johani January 14th, 2008 pukul 11:54 am

benang gelas diulurkan

damai dikuburkan


- the rest of the writings i did for them, that they deemed public enough !, fuckin police state !, you can still enjoy here, arent i nice still linking them, handing them more traffic they dont deserve and when theyve for all intents and purposes put the brakes on me !



Tuesday, 10 June 2008

raumanen wasnt as good as


badai pasti berlalu, tapi kapan ?

sedan impala merah muda, memadu kasih di kapnya
vespa lambretta lambret segala

kancing copot dari dadamu, boleh kusimpan ?

malammalamjakartabanyakjinnya
gloriajeansdiblokmmalbeneranjualjinsgaya



Friday, 9 May 2008

Tentu aku ingin menulis entah bagaimana tapi tentu aku tahu sebenarnya kenapa


—terdampar lagi di kamar ini
wallpaper motif trellis
mengelupas di sana sini
dua lampu sorot
tepat di atas kepala
lubang angin berbentuk hati
layang layang tanpa ekor
di langit sana

—langit di sini selalu biru
Pantone 292

—bukan misteri juga
sebenarnya seandainya
aku bisa mencegah menciumnya
di pojok bar gelap
dan seminggu kemudian
bilang ya saja
waktu dia menuntut
kita tidak bisa begini terus
    kan gila

—tapi memang
sekali layang layang putus tali
tak ada yang mau benar benar tahu
siapa kini menaikkannya kembali

—mungkin juga tinggal rangka
gering di pucuk angsana

          —kejar mengejar ada mangsanya
             sekarang telah tiba
             musim instan
             benang telah digelas
             layang layang berekor
             bertelinga

—kalau hidup bisa seperti berburu
bukit hijau padang savanna
Afrika Sumbawa

    —berhenti
       (begitu saja)
       peluru menembus kepala
       atau hati ?

                —belajarlah anatomi !

—semua hanya khayal semata
dan kata orang
32 waktunya beranjak dewasa

    —aku pun sadar itu

       —ada saatnya
          turunkan ayunan
          menggantung dasi
          sebagai gantinya

—mana mungkin ada
hidup tanpa autopsi
hanya penyembelihan
diikuti makan pesta pora
di depan api unggun
tangan tangan merah hitam
diusapkan ke celana

    —tidak!
       hidup penuh post-mortem
       segalanya
       perhitungan gono gini
       siapa yang membayar liburan ke Bali
       siapa yang waktu itu ragu ragu pergi
       cinta siapa yang lebih sejati ?

—baik kau biasakan
aku biasakan
naik banding
ke Mahkamah Percintaan
dengan kau sebagai
Hakim Ketua
Hakim I
Hakim II
Jaksa
Pembela

    —aku sekedar pesakitan
       di kursi berpunggung rotan

           —di laporan koran esok hari
          hanya foto punggungku yang diedarkan

    —penjahat memang harus dihindari
   
           —takut menular !

—Dewan Hakim Yang Mulia
ampunilah aku
karena aku tak tahu pun
apa yang telah kulakukan
aku tahu ini bukan alasan
apalagi alibi yang tak bisa dibantahkan
aku hanya menuntut
belas kasihan-Mu
karena aku manusia
tak tahu malu

    —seandainya hidup
       sesentimentil bayanganku !

—sekarang, ingat ingat ini,
catat kalau bisa
di blocnoot murahan pun tak apa
asal 'kwaliteit baik' :
kau sedang duduk duduk di Popi's
kedai kecil di Gondangdia Lama
menonton kereta Bogor
melintasi bulan
lengan lengan
menggantung keluar
dari pintunya
dan hidup rasanya
seperti inilah seharusnya
selamanya

—masukkan Selected Poems
Williams-mu ke dalam tas
tak usah kunci tutupnya
ini kan hanya simbolik saja
toh kau sudah hapal
di luar kepala
The Widow's Lament in Springtime
atau apapun dari
Journey to Love
(bukankah manis
epigrafnya:
'For My Wife'
—'the whole process is a lie' !—
this whole poem

(—unless, paling tidak di kota ini
kau selalu kembali ke rumah
walau kau juga yang merusaknya)



Sunday, 27 April 2008

All that he wants (I saw the sign) (Sendiri di rumah) It's a beautiful lie o ooo o ooo (He lives a lonely life)


seperti efek rumah kaca dan bunda vina aku pun suka desember ceria
penuh mistletoe, santa, dan gadis berhotpants leha-leha di plasenta
walaupun erk lebih suka dengan plangi yang setya menunggu hujan reda
walaupun mungkin juga kan, hujan yang setya pada plangi, selalu turun supaya dia ada
sementara vina, sudahlah siapa yang tahu ada apa di balik rambut sasak wanita gila itu
kring kring kring sepeda kumbang, burung camar, surat cintanya yang pertama?
mana aku tahu aku bukan wartawan silét padahal itu kan salah aksennya karena aigu
harusnya dibaca jadi silit yang dalam bahasa jawa artinya dubur gimana sih mr. editor
tapi mungkin juga dia penganut ejaan suwandi, ja sudah betul djuga kalau begitu
kalau buatku sih desember bulan gahar saat jalan-jalan jakarta berubah jadi kaca
dan hidupku terpeleset menggelincir dari bar ke bar sampai di sekitar sarinah thamrin
kaca itu berubah jadi es dan pecah dan aku tenggelam pas di bawah pantat brondong-brondong oh la la

Thursday, 24 April 2008

The knife may forget but not the wood.*


ill pay anything
    to get the feeling back
        of when i was three
sitting in the back seat of a cab
    looking out towards a game parlour
        my dad sitting next to me
—us not touching—
    explaining the laws of pinball
        to the back of my head

the world was large then
    i habitually refused to eat
        the glazed decorative
cherry on top of my sundaes

sometimes i get the feeling back
    for free
        when walking out of a mall
i see the unfinished summit
    of a skyscraper
        how the steel skeletons,
the still crane like a giant watchmen,
    the workmen with their chests of white light,
        how they never tire
of building up

largesse out of life.



* nepali proverb.


Monday, 7 April 2008

toh tidak apa apa bukan hidup semakin lama semakin tidak berarti


—toh tidak apa apa bukan
kalau hidup sekedar pilihan
menuang bir—erdinger, duvel
75 ribu sebotol—
dengan busa
    atau kering saja

kemudian, sebentar
aku mau ke toilet dulu
dan di sana menyeka air mata
di depan cermin yang retak
    tepat di tengahnya

memang, jadi semakin susah
fokus bekerja
hati selalu berdebar
ingin lagi bercanda
bersenda gurau
    dengan teman

—dan bayangan fantastis
tentang diri sendiri
sampai—menengok jam tangan tetangga
jarum menunjuk tiga
    waktunya pulang

atau sekedar istirahat
dari kesepian
yang semakin lama semakin
menyayat
    toh tidak apa apa bukan
   
—hidup semakin lama semakin tidak berarti
tanpa canda tawa yang dipertahankan
mati matian sepanjang hari—sepanjang malam
dan pagi pun—kata kata yang berusaha diledakkan
di angkasa di antara kita
    selain itu hanya perjalanan pulang

di taksi, tarif lama, atau baru, apalah bedanya
langit jakarta yang ceria, kubikel kantor yang masih menyala
entah lembur, entah alpa dimatikan, apalah bedanya
itupun kadang kadang, hati masih menyalak
jangan pulang!, dan taksi pun dibelokkan
    ke apartemen teman di jantung kota

percakapan percakapan yang makin menyesatkan
dalam asyik asap rokok, kadang kadang ganja
stok darurat—setiap hari selalu darurat—
perdebatan tentang atheisme dengan mata merah menyala
sendu di sudut sudutnya, atau mungkin
    mengantuk saja

selanjutnya hanya menanti siapa yang bakal pertama berhenti
menuang chivas ke dalam gelas berisi kopi
—suam suam kuku—itupun setengah hati
sebelum kesopanan dan tata krama
menuntun jari menekan angka angka
    yang sudah dihapal di luar kepala

0217941234, ya blue bird saja
ke pinggir jakarta—dan lima belas menit kemudian
masih juga main tebak tebakan, siapa di antara kita berdua
yang sedang pura pura tidak mendengar
suara kunci mobil dibentur benturkan
    di pagar besi di luar

Sunday, 3 February 2008

seandainya aku adalah google earth mother

aku ingin jadi    penyair wanita
aku ingin   sekedar mencampakkan mata
terbang    ke    langit
melabur awan dengan cat transparan
di bawah sana aku lihat   peta jakarta
noktah hitam rambutmu
melenggang    riang    ke sebuah kencan buta
dengan penyanyi kribo   idola remaja   seantero nusantara
kulihat kalian   beradu sumpit
dan kombinasinya membentuk salib
kau    pasti tak percaya
di surga   aku tak bahagia
tadi malam   aku bermimpi
menemukan 80 mayat   di halaman belakang
digali 2 prajurit kopassus berwajah masam
baret merah basah   berat di keningnya
aku tidak tahu siapa yang menanam   mayat mayat itu
mungkin 80 kau!
kau   pasti tak percaya
di surga aku   tak bahagia
makanan semua masakan jawa
sementara tanganmu   dan tangannya
berebut sambal dan secuil   sangsang
aku ingin   sekali
jadi penyair    wanita
tapi di sini bukti   nyata
aku laki laki   sejati
menulis sajak bebas   aturan ciptakan sendiri
jauh di mata  
dekat di keyboard    menyala nyala

Saturday, 12 January 2008

if only i had her sense of entitlement and self-importance

'I'm a writer who concerns myself with underrepresented voices.'

- Camilla Gibb, author of 'Sweetness in the Belly', Grand Ballroom, Le Meridien, Casablanca, Jakarta, Indonesia, 22 March 2007

Crise de la conscience jakartanaise

SEBUAH PASTORAL

PENUH SENDAL

Menulis dalam gelap, Blue Bird JU 1261, 13 Januari 2008, 03:31 WIB, Pakubuwono ke arah Ciledug

Hanya kota ini yg bisa membuatku
merentang busur sekaligus
mencium tanah.

Wednesday, 5 December 2007

A day in the life of a Jakarta urban professional (circa early 21st century)

Multiply, work, multiply, work, multiply, work, multiply, work, multiply, work, multiply,
work, multiply, work, multiply, work, multiply, work, multiply, work, multiply, work,
multiply, work, multiply, work, multiply, work, multiply, work, multiply, work, multiply,
work, multiply, work, multiply, work, multiply, work, multiply, work, multiply, work,
multiply, work, multiply, work, multiply, work, multiply, work, multiply, work, multiply,
work, multiply, work, multiply, work, multiply, work, multiply, work, multiply, work,
multiply, work, multiply, work, multiply, work, multiply, work, multiply, work, multiply,
work, multiply, work, multiply, work, multiply, work, multiply, work, multiply, work,
multiply, work, multiply, work, multiply, work, multiply, work, multiply, work, multiply,
work, multiply, work, multiply, work, multiply, work, multiply, work, multiply, work

Tuesday, 4 December 2007

Putra Express

                di taxi
setelah pesta—lima pitcher bir
dan banyak berita
di ubud panas membungkus bunga
paus malas lewat lagi di lamalera
di upper room scotland adalah a corner pub
di dalamnya se-pint jakarta

                selalu
gelas diisi—tak pernah dibiarkan
lebih dari setengah kosong kurang dari
setengah terisi
ledakan ledekan
di mana kau menciumnya?
jari leleh mengelus pipi 

                aku
ini sudah lama—aku suka malam ini
ternyata kau juga hanya mencari
percakapan yang bakal menggema
setelah kursi dibalikkan di atas meja*

                menangis
bahagia—atau hanya perih menatap
puncak kota? neon, bulan, awan
bersaing aura—berjuang menembus
robek riben di jendela



*baris ini dicuri dari status facebook gratiagusti chananya rompas (aslinya in engles).

Thursday, 29 November 2007

Wednesday, 19 October 2005

is where flowers bloom at the wrong time of the year

i stop. break the soft stem of the red flowers hanging over the toll road fence. red looks good on grey. i used to drink the juice that would drip from the wound. now the cut is dry. my hand grey from the dust around the stem. i move on. see where the gondoks grow like gothic ruffles on the swamp. people say they drink the oxygen dry from the water. black. children fishing with thin bamboo rods and raffia lines in it, ankle deep. couples sit on motorbikes and watch the children, his hands around her waists. all the leaves though, are green. the deep green of save the rainforest posters. i look for a death metaphor, all i could use is the black trunks of the mangrove trees, but even they are surrounded by life. green moss, yellow butterflies so pretty you think you're just imagining them, purple springs of ivy around the poles propping up an ad for ideas for life panasonic TV sets. the closer i get to departure, the more i realised what i'm leaving behind: a place where life cheats death and keeps you company while you try to do the same.

Tuesday, 18 October 2005

is nothing and everything pulls you everywhere


that you don't remember anything. not the puddle of black water your dunlop sneakers fall into, not the cold wet between your toes for hours after you had forgotten it ever happened, not the lime green tailshirt popping out of her olive green pants (everything else was in its right place, even the gradation of black in her hair), not the pink flowers of eczema on his arms—i tried to avoid them, but they stayed in my head for a little while, not the pathetic white cotton towel tied around a broken pipe on the men's urinal, not the milisecond wait before the sloan automatic tap washed the dirt and sin off your hands, not the conblocks everywhere under your feet, grey, white, black, the rare red in front of my office, and on their surface more pamors than on a sendang sedayu, not that anyone here would know what i mean by pamor, or sendang sedayu, unless you read him every week, not the surprise moon over suburban rukos' rooftops, the way it makes you feel good about being out there still at 9.31 pm on a damp tuesday night, not the caterpillar of clouds that ran along an invisible branch off the trunk that propped up the moon. not anything.