Showing posts with label theiliad. Show all posts
Showing posts with label theiliad. Show all posts

Friday, 9 May 2008

Tentu aku ingin menulis entah bagaimana tapi tentu aku tahu sebenarnya kenapa


—terdampar lagi di kamar ini
wallpaper motif trellis
mengelupas di sana sini
dua lampu sorot
tepat di atas kepala
lubang angin berbentuk hati
layang layang tanpa ekor
di langit sana

—langit di sini selalu biru
Pantone 292

—bukan misteri juga
sebenarnya seandainya
aku bisa mencegah menciumnya
di pojok bar gelap
dan seminggu kemudian
bilang ya saja
waktu dia menuntut
kita tidak bisa begini terus
    kan gila

—tapi memang
sekali layang layang putus tali
tak ada yang mau benar benar tahu
siapa kini menaikkannya kembali

—mungkin juga tinggal rangka
gering di pucuk angsana

          —kejar mengejar ada mangsanya
             sekarang telah tiba
             musim instan
             benang telah digelas
             layang layang berekor
             bertelinga

—kalau hidup bisa seperti berburu
bukit hijau padang savanna
Afrika Sumbawa

    —berhenti
       (begitu saja)
       peluru menembus kepala
       atau hati ?

                —belajarlah anatomi !

—semua hanya khayal semata
dan kata orang
32 waktunya beranjak dewasa

    —aku pun sadar itu

       —ada saatnya
          turunkan ayunan
          menggantung dasi
          sebagai gantinya

—mana mungkin ada
hidup tanpa autopsi
hanya penyembelihan
diikuti makan pesta pora
di depan api unggun
tangan tangan merah hitam
diusapkan ke celana

    —tidak!
       hidup penuh post-mortem
       segalanya
       perhitungan gono gini
       siapa yang membayar liburan ke Bali
       siapa yang waktu itu ragu ragu pergi
       cinta siapa yang lebih sejati ?

—baik kau biasakan
aku biasakan
naik banding
ke Mahkamah Percintaan
dengan kau sebagai
Hakim Ketua
Hakim I
Hakim II
Jaksa
Pembela

    —aku sekedar pesakitan
       di kursi berpunggung rotan

           —di laporan koran esok hari
          hanya foto punggungku yang diedarkan

    —penjahat memang harus dihindari
   
           —takut menular !

—Dewan Hakim Yang Mulia
ampunilah aku
karena aku tak tahu pun
apa yang telah kulakukan
aku tahu ini bukan alasan
apalagi alibi yang tak bisa dibantahkan
aku hanya menuntut
belas kasihan-Mu
karena aku manusia
tak tahu malu

    —seandainya hidup
       sesentimentil bayanganku !

—sekarang, ingat ingat ini,
catat kalau bisa
di blocnoot murahan pun tak apa
asal 'kwaliteit baik' :
kau sedang duduk duduk di Popi's
kedai kecil di Gondangdia Lama
menonton kereta Bogor
melintasi bulan
lengan lengan
menggantung keluar
dari pintunya
dan hidup rasanya
seperti inilah seharusnya
selamanya

—masukkan Selected Poems
Williams-mu ke dalam tas
tak usah kunci tutupnya
ini kan hanya simbolik saja
toh kau sudah hapal
di luar kepala
The Widow's Lament in Springtime
atau apapun dari
Journey to Love
(bukankah manis
epigrafnya:
'For My Wife'
—'the whole process is a lie' !—
this whole poem

(—unless, paling tidak di kota ini
kau selalu kembali ke rumah
walau kau juga yang merusaknya)



Tuesday, 29 April 2008

War Cry


I have left you for aeons
I have left you for the comfort of love
I have left you for a three-year guarantee of happiness
I have left you

I will try to get you back
by the river bend bursting with melati fronds.
I will get you back
before the boatman calls.

I will get you

There will be no grievance from me
No old socks soaked with dew
No staring at the clear moon
No more crystal curtains

No
Not from me

This time I mean it
Yes, sirree.
I will not let death's dream kingdom
get me in my sleep.
I will not let it get me
on the prow of my black ship.

Not I





Tuesday, 15 January 2008

Announcement 3, point 5: Herr Johani, er ist tot

"Please collect the coffin containing: his body, a withered single rose placed carefully under his hands neatly cupped above the first button of his death-suit by his daughter and a Penguin copy of Pope's Iliad that he never got to finish, though he kept saying he'd put it on the bedside table so he could grab and read it whenever he wasn't too tired from seeing his girlfriend all day."



Monday, 10 December 2007

poem inspired by the mahabharata # 1,000,002,103,007,968,001,662

seorang jagoan akhirnya datang
ke medan perang

bersenjata panah
dan beberapa butir merjan

bertopi laken
dada telanjang

jari lentik
angan melayang

penuh fantasi
besok menang!

di belakang pasukan kaki
si jagoan mengamati medan

formasi supit urang
satu peleton membangkang

sangkakala dari cangkang
panji koyak di tiang

di depannya chylabborak
pax dan lord of mice

di sampingnya yudhistira
nakula begawan abiyasa

di belakangnya
istri istri membakar dupa

si jagoan mengangkat busur
berlapis kulit ular

menunggu sangkakala
dan langit bergetar

tak lupa dikulumnya
sebutir merjan

semesta mengkilat
di ujung putingnya yang tegang

diarahkannya busur ke awan
dewa dewa pun berlarian

pekik terompet
dan jerit panik prajurit

akhirnya!
si jagoan tersenyum

panah dilepaskan
dan dunia menyala

bagai daft punk alive 2007
@ coachella


aerodynamite!
harder, better, faster!

stronger than anything
homer had ever imagined

si jagoan membuka matanya
merjan pahit di mulutnya yang kering

di sekitarnya
lingkaran hitam

sepi
tanpa tepi

tinggal dia sendirian
merentang busur kosong

awan lenyap
udara berbau mesiu

di kejauhan
tiga pohon hangus

si jagoan menyeka keringat
di sekitar mata

menundukkan kepala
memandang jari kakinya

sayang,
tak tersisa lagi satu pun pendongeng keliling

yang bisa berblablabla
siapa dia sebenarnya

seorang superhero
human after all