Showing posts with label jawa. Show all posts
Showing posts with label jawa. Show all posts
Wednesday, 28 May 2008
Pembacaan terlalu dekat
PERENANG BUTA
oleh Nirwan Dewanto (ie, God #2)
Sepuluh atau seribu depa
ke depan sana, terang semata.
Dan arus yang membimbingnya
seperti sobekan pada jubah
tanjung yang dicurinya.
Tak beda ubur-ubur atau dara
mendekat ke punggungnya
yang tumbuh sekaligus memar
oleh kuas gerimis akhir Mei.
Ia seperti hendak kembali
ke arah teluk, di mana putih layar
pastilah iri pada bola matanya.
Tapi ia hanya berhenti, berhenti
di tengah, di mana rambutnya
bubar seperti ganggang biru
atau gelap seperti akar benalu
sehingga betapa mercusuar itu
ragu-ragu memandangnya.
(2007)
dari Nirwan Dewanto, Jantung Lebah Ratu, Gramedia Pustaka Utama, 2008, hlm. 3.
PERENANG BUTA TULI
oleh Pembaca Separuh Buta Separuh Cumi-cumi
seseorang berkaca mata hitam cutler and gross berdiri ragu-ragu di tepi pantai. memandang ke arah cakrawala sana. kulitnya coklat, agak bersisik. tanda dia sering berjemur di tepi pantai, dan suka malas memakai tabir surya. spf 15+ minimum, kata iklan slip slop slap dari departemen kesehatan. tapi dia mungkin tidak pernah melihatnya. dia hanya mengenakan speedo budgie. warna coklat juga. ketat betul seperti dia tidak peduli biji2 peler delimanya akan lenyap terdorong sampai ke lambung. pahanya gempal, tak begitu tinggi, tipikal orang jawa. tapi rambutnya panjang dan dibiarkan tergerai, agak2 pirang karena keliatannya jarang dikeramas dan sering dibiarkan kering saja setelah berenang di laut. kalau kamera didekatkan, keliatan butir2 garam di antara rambut2 yang bau matahari. jangan terlalu dekat. (kamera kok bisa membaui?) kalau kamera menjauh, ia kelihatan seperti orc, tapi agak kerdil. mungkin sauroman tak sabar menariknya dari kauldron pembibitannya. terjunlah ia ke laut, berenang ke arah cakrawala. hari sudah sore, orang2 berpikir, mungkin ia tergoda oleh langit merah muda di kejauhan sana. kaca mata hitam tetap dipakainya. entah bagaimana tidak lepas kena ombak. gaya renangnya aneh, tangan gaya dada, kaki gaya bebas. tipikal gaya otodidak anak2 jawa yang belajar renang di kali. kecepatannya lambat, walau arus laut sore menolongnya menjauhi pantai. mungkin sepuluh depa per menit. tapi ia tidak kelihatan tergesa-gesa. sampai di mulut tanjung bondi itu, ia menubruk sesuatu di laut. dikiranya ganggang, tapi ternyata jubah pesulap! macam yang dikenakan eddie izzard di klip for the benefit of mr. kite, there will be a show tonite! di across the universe. on trampoline! hitam dengan bordiran berbentuk bulan sabit, purnama dan bintang beraneka ukuran tapi semuanya berwarna emas. ia berhenti berenang sebentar, doggie paddle dengan ahlinya, dan dikenakannya jubah itu. tak lupa topi runcingnya yang menempel di jubah itu seperti hoodie. dan ia berenang lagi. putri duyung dan ubur2 yg banyak tinggal di ujung tanjung itu terpesona. siapakah penyihir jawa berkaca mata bertopi runcing berambut panjang tergerai seperti ganggang yang berenang tenang ke arah matahari terbenam ini? mereka berenang mendekatinya, mengerubunginya seperti groupies. beberapa ubur2 itu ada yg menempel di punggungnya yang sekarang tidak lagi telanjang. dari kejauhan, tapi tak terlalu jauh, ia kelihatan seperti punya punuk transparan. putri duyung itu mulai bernyanyi, menggodanya, mula2 lagu d'masiv yg sedang hit gila itu, 'kau hancurkan aku dengan sikapmuuu, lelah hati ini meyakinkanmuuu, cinta iniiiii ... (teruskan sendiri).' tapi si penyihir jawa berkaca mata bertopi runcing berambut panjang tergerai seperti ganggang yang berenang tenang ke arah matahari terbenam tidak meneruskan korus itu. ia seperti tidak mendengar apa2. tidak melihat apa2. tidak merasa apa2. apakah telinganya disumpal brokoli? kelihatannya tidak. ia acuh tak acuh memang tak acuh. putri2 duyung tak meneruskan nyanyian. menanggalkan beha batok kelapa mereka hanya. menggoyang2kan susu mereka merah muda di depan muka si penyihir jawa berkaca mata bertopi runcing berambut panjang tergerai seperti ganggang yang berenang tenang ke arah matahari terbenam hanya. tak ada guna hanya. sekarang awal juni, dan seperti di akhir mei, gerimis turun seperti selimut sutra dari langit yang tak begitu berawan2 amat. kali ini, si penyihir jawa berkaca mata bertopi runcing berambut panjang tergerai seperti ganggang yang berenang tenang ke arah matahari terbenam merasakannya. gerimis itu. padahal tubuhnya sudah terbungkus jubah yg tebal panjang sampai ke tungkai dan dilengkapi hoodie topi runcing itu. mungkin ia hanya ingin berhenti saja. karena ia berhenti. doggie paddle lagi. sekarang ia bisa merasakan gerimis itu jatuh ke mukanya. tawar, di bibirnya yg asin. setelah beberapa lama menengadah ke langit, gerimis membuat bunyi cetak cetok di lensa kacamata cutler and gross yang tahun lalu dibelinya di london, di soho, ia mulai berenang lagi. tapi ia berubah arah! ke arah teluk di sebelah kanan agak mundur, menjauhi matahari! atau anda lebih suka matari? make up yr mind, quick! ya, ia berenang menjauhi matari (im being kind, i know), ke arah teluk yang airnya telah lenyap tertutup beribu2 kapal pesiar pinisi. layar putih mereka tetap terbentang walau mereka diam saja. mungkin macet. traffic is bad in this bay. where is the face that launched these thousand cruise-ships? si penyihir jawa berkaca mata bertopi runcing berambut panjang tergerai seperti ganggang yang berenang tenang ke arah matahari terbenam berenang terus ke arah pinisi2 itu, walau kelihatannya ia juga tidak sadar mereka ada di sana. semacam insting saja yg menuntunnya ke sana. insting seperti bunyi gong. hanya ia bisa merasakan, air laut semakin hangat, beberapa tetes yg masuk ke tenggorokannya mulai terasa aneh, seperti wine, seperti indomie rasa kari ayam, seperti taik. ia harus berhenti. ia berhenti. dari teluk, ia kelihatan seperti berhenti di cakrawala. kali ini ia tak susah2 ber-doggie paddle lagi. ia copot hoodie topi runcingnya, jubah yg berat itu sekalian—seekor kelinci mati lepas dari kantongnya—bahkan kacamatanya. ia lemparkan saja kacamata cutler and gross berharga 300 squid itu ke angkasa yg kelam. sinar mercu suar mulai berkeliling di sekitarnya, walau ia tidak bisa melihatnya. ia juga tidak bisa melihat, mata gelasnya yg putih bagai susu perempuan berambut merah, lebih putih dari layar pinisi yg kotor ternoda taik camar, lebih putih dari jantung lebah ratu. mata gelas putih susu itu menatap nanar ke arah pinisi2 yg angkuh, turun pelan-pelan, ia mulai tenggelam. ia tidak melawan. dengan khidmat ditutupnya mata gelasnya putih susu waktu mulai terbenam di air laut yg bacin bau taik. rambutnya yg panjang tergerai bubar di permukaan laut seperti ganggang, atau akar benalu, atau, di mata penjaga mercu suar di pucuk tanjung di belakangnya, seperti tentakel-tentakel raksasa monster air yang sudah 74 tahun terakhir ini dicari-carinya. hanya.
perenang wuto
oleh rancari
seperti akan kembali menuju teluk
ia diam dengan rambut menyerabut legam.
entah berapa kayuh lagi, mercusuar benderang menatap mangu.
dan hanyalah segumpal memar di punggung dari mainan ubur-ubur atau dara yang mendekat dengan arus memeluk rapat bersaing ketat dengan jubah tanjung yang dicurinya.
dan pemilik mata seputih layar itu terhenti
dengan saksi
gerimis akhir mei.
Labels:
acrosstheuniverse,
anggorogunawan,
bondi,
cutlerandgross,
dmasiv,
eddieizzard,
helen,
indomie,
jawa,
london,
mardio,
nirwandewanto,
ode,
passémon,
pinisi,
rancari,
soho,
spf15
Sunday, 10 February 2008
sing, memory
tiga baris lirik yg akan saya tulis sebentar lagi di kepala saya selalu saya anggap sebagai baris2 yg ditulis oleh obbie messakh. karena itu saya sering menganggapnya dan sering bilang sama orang lain bahwa saya menganggapnya lirikus terbaik indonesia masa 80-an. dia, bukan ebiet g. ade. (dont i sound old.) tapi sebenarnya saya tidak pernah mendengarkan sama sekali lagunya, saya tidak tahu judulnya, bahkan saya sebenarnya tidak benar2 tahu apakah tiga baris lirik ini memang karangan obbie messakh, atau apakah tiga baris lirik itu bunyinya benar2 seperti itu, atau apakah memang tiga baris, atau dua, lima? atau bagaimana sebenarnya mengeja nama obbie messakh? saya ingat samar2 seorang teman pernah bilang bahwa seorang kritikus sastra, di kepala saya saya ingatnya adi wicaksono tapi saya google namanya ternyata dia sudah mengubah namanya (dasar orang jawa) jadi wicaksono adi, some change!, pernah bilang bahwa obbie messakh (anggap saja utk sementara ejaannya yg benar memang begini) adalah lirikus yg bagus dan dia (adi wicaksono/wicaksono adi) memberikan tiga baris lirik tadi sebagai contohnya. sebenarnya teman saya sih yg memberikan contoh itu. dan menceritakan semua itu. jadi bisa saja sebenarnya semua ini pendapat teman saya hanya dia kurang pede dan menyitir nama adi whateverthefuckyournamelah supaya kedengaran meyakinkan. atau semua ini hanya karangan teman saya dan dia berbohong belaka. mungkin dia gila. mungkin obbie messakh juga tidak pernah ada.
atau mungkin juga saya yg mengarang semuanya, memori ttg teman saya yg bercerita ttg adi fuckwit, yg bercerita ttg obbie messakh, yg menulis tiga baris lirik itu tadi. teman saya itu sendiri. tapi kelihatannya sih tidak. i think i do, still, exist.
ini tiga baris tadi:
'di bawah payung hitam
rambutku dan rambutmu
bersatu dalam diam'
genius! and they might even be real.
atau mungkin juga saya yg mengarang semuanya, memori ttg teman saya yg bercerita ttg adi fuckwit, yg bercerita ttg obbie messakh, yg menulis tiga baris lirik itu tadi. teman saya itu sendiri. tapi kelihatannya sih tidak. i think i do, still, exist.
ini tiga baris tadi:
'di bawah payung hitam
rambutku dan rambutmu
bersatu dalam diam'
genius! and they might even be real.
Sunday, 3 February 2008
seandainya aku adalah google earth mother
aku ingin jadi penyair wanita
aku ingin sekedar mencampakkan mata
terbang ke langit
melabur awan dengan cat transparan
di bawah sana aku lihat peta jakarta
noktah hitam rambutmu
melenggang riang ke sebuah kencan buta
dengan penyanyi kribo idola remaja seantero nusantara
kulihat kalian beradu sumpit
dan kombinasinya membentuk salib
kau pasti tak percaya
di surga aku tak bahagia
tadi malam aku bermimpi
menemukan 80 mayat di halaman belakang
digali 2 prajurit kopassus berwajah masam
baret merah basah berat di keningnya
aku tidak tahu siapa yang menanam mayat mayat itu
mungkin 80 kau!
kau pasti tak percaya
di surga aku tak bahagia
makanan semua masakan jawa
sementara tanganmu dan tangannya
berebut sambal dan secuil sangsang
aku ingin sekali
jadi penyair wanita
tapi di sini bukti nyata
aku laki laki sejati
menulis sajak bebas aturan ciptakan sendiri
jauh di mata
dekat di keyboard menyala nyala
aku ingin sekedar mencampakkan mata
terbang ke langit
melabur awan dengan cat transparan
di bawah sana aku lihat peta jakarta
noktah hitam rambutmu
melenggang riang ke sebuah kencan buta
dengan penyanyi kribo idola remaja seantero nusantara
kulihat kalian beradu sumpit
dan kombinasinya membentuk salib
kau pasti tak percaya
di surga aku tak bahagia
tadi malam aku bermimpi
menemukan 80 mayat di halaman belakang
digali 2 prajurit kopassus berwajah masam
baret merah basah berat di keningnya
aku tidak tahu siapa yang menanam mayat mayat itu
mungkin 80 kau!
kau pasti tak percaya
di surga aku tak bahagia
makanan semua masakan jawa
sementara tanganmu dan tangannya
berebut sambal dan secuil sangsang
aku ingin sekali
jadi penyair wanita
tapi di sini bukti nyata
aku laki laki sejati
menulis sajak bebas aturan ciptakan sendiri
jauh di mata
dekat di keyboard menyala nyala
Subscribe to:
Posts (Atom)