Showing posts with label bondi. Show all posts
Showing posts with label bondi. Show all posts

Tuesday, 3 June 2008

ripped jeans and flannelled fools


Sunday cricket has never been as good as

the Sunday you came back from London.

we sat on cool grass in the shade

you said : like the Spartans at the Hot Gates.

i said : youd be the hottest chick at Thermopylae !

sunday brunch : bacon & egg roll from a gourmet Jewish deli.

you said : i like how theyve forgotten what kosher means

is it Hebrew ?

the picket fences painted pink.

a Chinaman bowling tailenders out on a dustbowl.

7 fer 92.

im trying to paint a picture of happiness 

before the cloud comes in.

they came in.

in fast rolling cartwheels. 

smelt like yr hair in the morning.

i am remembering all this in a great mall

where its always a perfect 21° under a thousand neon suns.

you are gone.

like the last wicket

middle stump out of the ground.



Wednesday, 28 May 2008

Pembacaan terlalu dekat


PERENANG BUTA

oleh Nirwan Dewanto (ie, God #2)

Sepuluh atau seribu depa
ke depan sana, terang semata.
Dan arus yang membimbingnya
seperti sobekan pada jubah
tanjung yang dicurinya.
Tak beda ubur-ubur atau dara
mendekat ke punggungnya
yang tumbuh sekaligus memar
oleh kuas gerimis akhir Mei.
Ia seperti hendak kembali
ke arah teluk, di mana putih layar
pastilah iri pada bola matanya.
Tapi ia hanya berhenti, berhenti
di tengah, di mana rambutnya
bubar seperti ganggang biru
atau gelap seperti akar benalu
sehingga betapa mercusuar itu
ragu-ragu memandangnya.

(2007)

dari Nirwan Dewanto, Jantung Lebah Ratu, Gramedia Pustaka Utama, 2008, hlm. 3.


PERENANG BUTA TULI
oleh Pembaca Separuh Buta Separuh Cumi-cumi 

seseorang berkaca mata hitam cutler and gross berdiri ragu-ragu di tepi pantai. memandang ke arah cakrawala sana. kulitnya coklat, agak bersisik. tanda dia sering berjemur di tepi pantai, dan suka malas memakai tabir surya. spf 15+ minimum, kata iklan slip slop slap dari departemen kesehatan. tapi dia mungkin tidak pernah melihatnya. dia hanya mengenakan speedo budgie. warna coklat juga. ketat betul seperti dia tidak peduli biji2 peler delimanya akan lenyap terdorong sampai ke lambung. pahanya gempal, tak begitu tinggi, tipikal orang jawa. tapi rambutnya panjang dan dibiarkan tergerai, agak2 pirang karena keliatannya jarang dikeramas dan sering dibiarkan kering saja setelah berenang di laut. kalau kamera didekatkan, keliatan butir2 garam di antara rambut2 yang bau matahari. jangan terlalu dekat. (kamera kok bisa membaui?) kalau kamera menjauh, ia kelihatan seperti orc, tapi agak kerdil. mungkin sauroman tak sabar menariknya dari kauldron pembibitannya. terjunlah ia ke laut, berenang ke arah cakrawala. hari sudah sore, orang2 berpikir, mungkin ia tergoda oleh langit merah muda di kejauhan sana. kaca mata hitam tetap dipakainya. entah bagaimana tidak lepas kena ombak. gaya renangnya aneh, tangan gaya dada, kaki gaya bebas. tipikal gaya otodidak anak2 jawa yang belajar renang di kali. kecepatannya lambat, walau arus laut sore menolongnya menjauhi pantai. mungkin sepuluh depa per menit. tapi ia tidak kelihatan tergesa-gesa. sampai di mulut tanjung  bondi itu, ia menubruk sesuatu di laut. dikiranya ganggang, tapi ternyata jubah pesulap! macam yang dikenakan eddie izzard di klip for the benefit of mr. kite, there will be a show tonite! di across the universe. on trampoline! hitam dengan bordiran berbentuk bulan sabit, purnama dan bintang beraneka ukuran tapi semuanya berwarna emas. ia berhenti berenang sebentar, doggie paddle dengan ahlinya, dan dikenakannya jubah itu. tak lupa topi runcingnya yang menempel di jubah itu seperti hoodie. dan ia berenang lagi. putri duyung dan ubur2 yg banyak tinggal di ujung tanjung itu terpesona. siapakah penyihir jawa berkaca mata bertopi runcing berambut panjang tergerai seperti ganggang yang berenang tenang ke arah matahari terbenam ini? mereka berenang mendekatinya, mengerubunginya seperti groupies. beberapa ubur2 itu ada yg menempel di punggungnya yang sekarang tidak lagi telanjang. dari kejauhan, tapi tak terlalu jauh, ia kelihatan seperti punya punuk transparan. putri duyung itu mulai bernyanyi, menggodanya, mula2 lagu d'masiv yg sedang hit gila itu, 'kau hancurkan aku dengan sikapmuuu, lelah hati ini meyakinkanmuuu, cinta iniiiii ... (teruskan sendiri).' tapi si penyihir jawa berkaca mata bertopi runcing berambut panjang tergerai seperti ganggang yang berenang tenang ke arah matahari terbenam tidak meneruskan korus itu. ia seperti tidak mendengar apa2. tidak melihat apa2. tidak merasa apa2. apakah telinganya disumpal brokoli? kelihatannya tidak. ia acuh tak acuh memang tak acuh. putri2 duyung tak meneruskan nyanyian. menanggalkan beha batok kelapa mereka hanya. menggoyang2kan susu mereka merah muda di depan muka si penyihir jawa berkaca mata bertopi runcing berambut panjang tergerai seperti ganggang yang berenang tenang ke arah matahari terbenam hanya. tak ada guna hanya. sekarang awal juni, dan seperti di akhir mei, gerimis turun seperti selimut sutra dari langit yang tak begitu berawan2 amat. kali ini, si penyihir jawa berkaca mata bertopi runcing berambut panjang tergerai seperti ganggang yang berenang tenang ke arah matahari terbenam merasakannya. gerimis itu. padahal tubuhnya sudah terbungkus jubah yg tebal panjang sampai ke tungkai dan dilengkapi hoodie topi runcing itu. mungkin ia hanya ingin berhenti saja. karena ia berhenti. doggie paddle lagi. sekarang ia bisa merasakan gerimis itu jatuh ke mukanya. tawar, di bibirnya yg asin. setelah beberapa lama menengadah ke langit, gerimis membuat bunyi cetak cetok di lensa kacamata cutler and gross yang tahun lalu dibelinya di london, di soho, ia mulai berenang lagi. tapi ia berubah arah! ke arah teluk di sebelah kanan agak mundur, menjauhi matahari! atau anda lebih suka matari? make up yr mind, quick! ya, ia berenang menjauhi matari (im being kind, i know), ke arah teluk yang airnya telah lenyap tertutup beribu2 kapal pesiar pinisi. layar putih mereka tetap terbentang walau mereka diam saja. mungkin macet. traffic is bad in this bay. where is the face that launched these thousand cruise-ships? si penyihir jawa berkaca mata bertopi runcing berambut panjang tergerai seperti ganggang yang berenang tenang ke arah matahari terbenam berenang terus ke arah pinisi2 itu, walau kelihatannya ia juga tidak sadar mereka ada di sana. semacam insting saja yg menuntunnya ke sana. insting seperti bunyi gong. hanya ia bisa merasakan, air laut semakin hangat, beberapa tetes yg masuk ke tenggorokannya mulai terasa aneh, seperti wine, seperti indomie rasa kari ayam, seperti taik. ia harus berhenti. ia berhenti. dari teluk, ia kelihatan seperti berhenti di cakrawala. kali ini ia tak susah2 ber-doggie paddle lagi. ia copot hoodie topi runcingnya, jubah yg berat itu sekalian—seekor kelinci mati lepas dari kantongnya—bahkan kacamatanya. ia lemparkan saja kacamata cutler and gross berharga 300 squid itu ke angkasa yg kelam. sinar mercu suar mulai berkeliling di sekitarnya, walau ia tidak bisa melihatnya. ia juga tidak bisa melihat, mata gelasnya yg putih bagai susu perempuan berambut merah, lebih putih dari layar pinisi yg kotor ternoda taik camar, lebih putih dari jantung lebah ratu. mata gelas putih susu itu menatap nanar ke arah pinisi2 yg angkuh, turun pelan-pelan, ia mulai tenggelam. ia tidak melawan. dengan khidmat ditutupnya mata gelasnya putih susu waktu mulai terbenam di air laut yg bacin bau taik. rambutnya yg panjang tergerai bubar di permukaan laut seperti ganggang, atau akar benalu, atau, di mata penjaga mercu suar di pucuk tanjung di belakangnya, seperti tentakel-tentakel raksasa monster air yang sudah 74 tahun terakhir ini dicari-carinya. hanya.


perenang wuto
oleh rancari 

seperti akan kembali menuju teluk
ia diam dengan rambut menyerabut legam.
entah berapa kayuh lagi, mercusuar benderang menatap mangu.
dan hanyalah segumpal memar di punggung dari mainan ubur-ubur atau dara yang mendekat dengan arus memeluk rapat bersaing ketat dengan jubah tanjung yang dicurinya.
dan pemilik mata seputih layar itu terhenti
dengan saksi
gerimis akhir mei.



Wednesday, 23 January 2008

masalah kehidupan yang dapat anda atasi sendiri

youve got nothin. so u want everythin. badly. things are made of glass, cut yr hands when u try to hold on. even if that. but please. who would give a flyin fuck. if u put everythin into each word as though the elision of a letter a syllable a word wd fit thick leather gloves on both yr bloodied hands. still bleedin. as if if u cd feel the smooth kidskin linin. as if that wd stop the bleedin. as if u can accelerate scabbin turn wounds into scars w/out anyone seein. as if were supermen putting on capes in steamin noo yawk alleys. please. no one gives. the fuck flyin. so we must. it was great it wasnt all we had. when we cd go for a walk when touchthesky told us it was too cold to go outside. when everythin was all i remembered it to be. and do u remember when we sat on the green bench in bondi. watchin the micropigeons of saltwater licks fly horizontal across our face hit us on the cheek then we turn the other and let them hit us flush in the face ? yes we remember. though we hv forgotten the reason why we shd. yes wed sit. wed sit and cross our legs for warmth. and protection from the crowd. everyone in the history of man has always needed protection from the crowd. pull the coarse brown handed down teddy coat over our body the hardcopy the flâneur out of the deep square pocket. wed read of the night peter climbed the coathanger and wonder what it all meant when we didnt know what it meant we went back to the words and tried to work out what happened on the page. small white and heavy like a sword. then we didnt know about duende and everythin was real. and the paintbox had not exploded over our heads and yr hair was black and mine/mind too. wed sit like that for an hour. stealin repose from the pages by restin one thumb between the page we had just read and one we were. still. rest them like a dead pigeon on one knee. wed squint to let more in. the way we read about once since everythin is academic to us and move our head like the lighthouses lamp. slow needless to say. then dont say it. i saw the mans backpack then his toes then his sandals once white now black. the night was black too but what i didnt know. it was just about to get blacker. what i did know somewhere in all the black theres. nothin. 

Sunday, 9 December 2007

Oom Slokop Oom Shanti Shanti Oom

One day Oom Slokop
went to an Art Supplies Store

He wanted to get an easel
a birthday present for Bibi Titi Teliti

He went upstairs
and chose a studio chevalet

From a catalogue
that made his head hurt

Lucky the shopkeeper was pretty
She had a hook for an arm.

Oom Slokop was happy
with his choice

It was big
impressive

Not too shabby.
He'd make a great hubby.

He carried the easel
disassembled but still showy

Through train stations
crowded beach strips

Cinema queues
a Hamburglar on stilts

At home
he slipped the heavy object

Under the divan
in front of the TV

Tonight
she will sit on a suprise party!

Oom Slokop sat
on the divan he built with his own hand

A thought went through his head
like a train wreck

That fuckin easel was heavy
is there a nicer boyfriend than me?









Thursday, 6 December 2007

pikronpikron


Sore ini kau siapkan
pesta perpisahan
Rumah putih di pojok jalan
karton-karton bir
lilin-lilin dalam cawan
Keharuan yang dipaksakan

Musim gugur cukup hangat
Jumper digantung di balik pintu

Buatmu gaun hitam tipis bertali sepatu

Apa kau sengaja?

"Kurus sekali kau sekarang
ada rongga di pipimu."

Belum waktunya berangkat
dan kita tenggelam
dalam tawa
Oprah, Springer, bau lavender

Bergandeng tangan
kita berdansa
bersama Billy Bragg
dan kisah martirdom seorang santo pemburu cinta

Ingin rasanya menyelinap keluar
hanya untuk:
papaî, khoréutès lulos
oukéti psopheiî!

Tapi kesopanan harus dijaga
dan kesedihan
yang belum sampai puncaknya