Showing posts with label goenawanmohamad. Show all posts
Showing posts with label goenawanmohamad. Show all posts

Thursday, 11 September 2008

Bukan Tentang Seorang yang Terbunuh di Sekitar Hari Pemilihan Umum


eli eli lamma lamma sabacthani
better that than a saxophone cry kata ginsberg
lama sebelum bertemu gm di taman itu
hanya khayalannya !
nothings holy, didnt u get me ?
said he under his pubic beard
ah, mr ginsberg, dont u know
these poets of the third, overdeveloped (lyrically) world !
theyre nothing but false-cosmopolitans
a few rungs below false prophets
just a step above on the ladder half-sunk in hells cryogenic mud
dont pay any attention
to the voter with his face down in the ditch
hes just drunk
not hunted down by a police state



Monday, 26 May 2008

pi lih


di depan klenteng bergenteng naga itu pilihannya selalu sama, sayap yang utuh, atau dada yang disuwir-suwir seperti berita

tentang ibumu yang menolak meninggalkan rumah dan kakakmu yang datang dengan pedang di hatinya.

tapi waktu kalian bercakap, semua itu tak ada, hanya nostalgia tentang Kota Tua, bistik Belanda, dan mrica berwantek merah muda

menyewa video Megaloman, Beta, dari bapak-bapak rental keliling yang menenteng tas tenis tua, merek Head. Yang mencatat tanggal di sobekan karton

pembungkus Buavita. Cinta diberikan dan kita memberikan cinta, kalimat itu muncul tiba-tiba, dari bau jelantah dan nasi basah yang menyelip di rusuk-rusuk tikar

katakan itu pada Gaban! seringaimu pada malam yang mulai susut, lampu-lampu rem yang mengedut

kau belum juga berubah! sergahnya, mulutmu masih menyembunyikan tikus-tikus kecil bergigi runcing, rambutmu masih tegak tersapu angin, bibirmu masih seperti Mimin.

sudahlah kak, kita di sini bukan lagi untuk memperdebatkan siapa yang paling cantik, Laura atau Mary, atau siapa yang paling baik di mata Pa

atau iya? aku benci malam ini tidak ke mana-mana. kalau bisa aku ingin tahu serigala macam apa yang bersembunyi di prairie hatimu. dan ibu.

dan dia hanya tersedak, dan gelas nasgitel terbang bersama ujung jarinya. kelihatannya, dan dalam hati kau tahu itu, hidup sudah berlaku lebih kejam padanya.

mungkin lebih baik aku datang ke rumah saat orang-orang sibuk siesta dan kalian tak ada di dalamnya. aku meninggalkan notes di bawah jok sepeda seperti biasa

kak, bu, adik mampir untuk minum, sekarang hari selasa kliwon, pukul dua. mungkin itu akan lebih meninggalkan harapan.

dik, akhirnya dia berkata, di kota ini gerimis hanya asam, kuda tak berhenti di tengah hutan, dalam satu siang, bisa saja kami berada di empat tempat bersamaan.

untuk apa bicara tentang kemungkinan, sementara malam pun belum genap, dan masa lalu masih begitu mengerikan?

di pasar, adikku, orang-orang masih berbenah, dan di kafe itu, mereka masih menyilangkan siku. untuk apa membayar bon yang belum jatuh waktu?

entahlah, kata-katamu selalu terdengar seperti pepatah. aku hanya ingin cerita yang lain, hati yang utuh, ketel yang tak pernah dingin.

sambil membenarkan dudukmu, kau mengarahkan pandang ke matanya yang keruh seperti kelereng taruhan, kaosnya yang kedodoran.

hanya yang dari tadi diam saja bisa melihat, urat-urat di punggung tanganmu mengeras, seperti sungut-sungut naga di bawah bulan di atas.



Sunday, 4 May 2008

'buka g-stringmu aisyah, calon suamimu berhak tahu rupa labiamu,' etc


Waktu adalah twhirl, cintaku, dan spaz adalah gaung   

Waktu adalah mesin hitung, cintaku, dan kalkulator adalah raung

Waktu adalah mesin hitung, cintaku, dan kalkulator adalah ruang

Saya Cemaskan Sepotong Lumpur, Rodin, aidez-moi!

Variasi untuk Sebuah Lagu pada Kaset Greatest Hits Duran-Duran-ku

Di Kota Itu, Kata Orang, Gerimis Telah Jadi Logam, Masa Sih?

Ia Meminum Kopinya, dan Meletakkan Telapak Tangannya, Goddamn! Thats Hot!  

Barangkali Telah Kuseka Namamu, Tulis Lagi Dong Pake Snowman Permanent Marker

Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi, Ya Lepas Dong Headphones-mu Oom!

Dari Jendela Bar Saya Lihat Hujan Ikut Hingar, Menari Nari Diiringi Interpol dan GWAR

Misalkan Kita di Sarajevo, Lo Aja Gih Sana



*membutakan babi dengan bantuan twitter, twhirl, lg kg300 (agnes monica je t'aime !), dan tuhan



Monday, 17 March 2008

bulan tak kusam ketika malam purnama*


malam tak peduli makin bulan makin terang
makin memang di kota ini makin lama makin
jarang kita mendongak makin menunduk
sehingga seperti bom yang meledak di hati
waktu makin akhirnya tanpa sengaja makin
menengadah dan di atas sana bulan bulat
sempurna makin sempurna dengan cincin
putih mengurungnya makin gila karena awan
malas pula makin muncul makin membuat
kita makin yakin sesuatu pasti makin akan
terjadi di ujung malam ini makin yakinlah kita
makin lama awan pun tak tahan makin dan mereka
riang makin gembira membentuk serigala
celeng kelinci dengan tato angka 4 di pipinya
makin balkonilah malam ini makin dingin lantai
di punggungku makin deras bah keluar dari
mulut malam makin hilang cairan kuning makin
berbusa di botol botol yang makin hijau
makin kosong makin bergetar kuping berbuluku
makin merah mata delimaku makin putih
bulu bulumu makin bergetar di bawah sinar
makin purnama makin perak makin basah makin
             hitamlah moncongmu makin serigalalah kamu makin aku             



*dicuri dari catatan pinggir goenawan mohamad, 'cermin', tempo 13 januari 2008

Monday, 12 November 2007

PostSecret

today i bought goenawan mohamad's tuhan & hal-hal yang tak selesai and back at home i jerked off to aphorism no. 69.