Tuesday, 20 January 2009

Pintu Terlarang

Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Cult
Joko Anwar
Gala premiere Studio XXI - EX Jakarta 20 Januari 2009 21:25 never have i seen so many poseurs gathered in the one place since parc circa 2004

SPOILERS ALERT !

pintu terlarang mulai sebagai cerita pesugihan klasik: gambir seorang pematung kolekdol superlaris langganan kokohkokoh penikmat seni yang jadi terkenal dengan seri patung maternal moods-nya yang berbentuk ibuibu bunting dalam berbagai pose ashtanga yoga. tapi ternyata dia punya rahasia klenik: dalam setiap perut bunting itu ia menyimpan fetus bayi yang dibelinya dari klinik aborsi ekslusif mirip erhalogy tapi tanpa kedai häagen-dazs di lobi. ia mulai melakukan ini sejak dipaksa istrinya thalida untuk menyimpan fetus bayi mereka sendiri yang mereka aborsi di situ waktu mereka belum terikat dalam holy matrimony. tapi kemudian film ini jadi lebih kompleks. gambir seperti layaknya protagonis dalam filmfilm pesugihan mencoba lepas dari ikatan pesugihannya ia mau jadi orang baikbaik saja seniman tanpa beban moral kismin tak apa ia tak mau lagi bikin patungpatung ibuibu pertiwi hamil tua (dengan fetus beneran dalam perut mereka). tapi tentu saja iblis dalam wujud koh jimmy art dealernya tidak mengijinkan jimmy mengaborsi karir kolekdol mereka berdua dan seperti layaknya protagonis dalam filmfilm pesugihan gambir terus saja membuat patungpatung hamil tua dengan fetus beneran dalam perutnya itu di bawah catholic guilt (more on this later) luar biasa. mungkin beban moralnya ini yang membuatnya jadi sering melihat tulisan 'tolong saya' di manamana. apakah ini teriakan arwah fetusfetus yang dikaryakannya ? atau teriakan minta tolongnya sendiri ? so rosemary's baby. rosemary's dead babies ! dalam stres berkepanjangan ini gambir menemukan dirinya tibatiba di sebuah secret club bernama herosase yang ternyata sebuah tempat yang mungkin bisa dideskripsikan dengan nama peep-shows for sadists. tiap kamar berisi televisi daftar menu berisi namanama orang dan remote control. ternyata setiap channel di tv itu menayangkan footages yang keliatannya diambil dari hidden cameras di rumah orangorang yang melakukan kegiatankegiatan self-mutilation seperti menyulam tangannya sendiri (dicontek dari bulan tertusuk ilalangnya garin ?) atau mutilation unto others seperti dungeon berisi lakilaki bertudung menyodomi paksa lakilaki lain (pulp fiction ?) dan yang jadi channel favorit gambir: anak yang disiksa orangtuanya sendiri. arie hanggara: director's cut. gambir yakin anak itulah yang selama ini mengirim pesan tolong saya kepadanya. sejauh ini film jadi lebih menarik walau lambat nian menceritakan ceritanya seperti review ini juga tapi dari kisah pesugihan biasa ia menjadi satir psikologis yang oke punya. gambir yang selalu mengikuti kemauan orang lain—istrinya (yang menyebutnya lelaki lemah) koh jimmy ibunya yang selalu mengritiknya kenapa belum punya anak juga (gambir dianggap impoten oleh ibunya. seperti kisah jake di fiesta/the sun also rises-nya hemingway mulai saat ini pintu terlarang juga jadi semacam wasteland/(in)fertility myth yang penuh dengan usaha menulihkan ketidaksuburan gambir/kehidupan manusia)—dalam kefrustrasian eksistensialnya mendera diri sendiri dengan secara masokis menonton channelchannel jahanam ini (cinemaxxx ?). tapi mendera diri sendiri/jadi masokis pun ia hanya bisa melakukannya secara virtual lewat tv ! betapa ironisnya ! bukti betapa memang benar ia lemah ! satir yang bagus bener tentang kehidupan urban circa 2000-an di mana kita lebih senang menikmati realitas pre-loved lewat tv/youtube/tivo/youporn. singkat cerita gambir yang semakin didera perasaan bersalah tidak bisa menyelamatkan anak yang disiksa ortu di channel favoritnya tadi akhirnya terpaksa menyaksikan si arie hanggara II ini menggorok leher kedua ortunya waktu pulas tidur kemudan menggorok lehernya sendiri. revenge of the arie hanggaras ! tapi ini juga berarti episode tamat dari film seri favorit gambir ! o what would he do for a re-run ! saat kelimpungan mencari channel lain gambir menemukan di daftar menu channel 13: thalida sasongko istrinya sendiri ! di situlah ia menemukan bahwa selama ini ternyata istri temanteman bahkan ibunya sendiri bersekongkol supaya temanteman itu tidur dengan istrinya supaya mendapatkan keturunan (atas ijin bahkan usul ibunya). di situlah titik balik bagi gambir. dalam kemarahan yang amat sangat ia lupa bahwa dirinya seharusnya lemah dan perlu segera berobat ke mak erot dan dengan licin merancang sebuah pembalasan dendam yang begitu sadistis: ia mengundang semua orang yang selama ini telah menunggangi hidupnya ke sebuah christmas dinner. selanjutnya adalah sebuah scene anti-communion yang sungguh fun sekaligus sadistis. perjamuan terakhir ? sindirsindiran antara yesus dan yudas ? ngebencong doang dibanding scene yang dalam sepuluh menit dalam ke-graphic violence-annya berhasil jadi sama memuakkannya dengan 145 menit (premiere version) salò-nya pier paolo pasolini. gambir meracuni tamutamunya dengan obat yang membuat mereka paralitik masih bisa mendengar melihat dan berpikir tapi tidak bisa bergerak selama 10 menit dan sambil membacakan monolog yang tidak begitu jelas kedengaran dari artikulasinya yang buruk sambil ketawa ketiwi menyembelih mereka satu persatu. siapa yang tidak akan bahagia menonton henidar amroe dibenamkan mukanya sampai mati di mangkok es buah dan marsha timothy ditembak kepalanya sampai otaknya terceraiberai di meja makan (ternyata dia punya otak) ? selain fun scene ini juga makes total sense. gambir telah dibikin numb oleh channelchannel voyeuristis sadis di herosase dan sekarang ia hanya nyengirnyengir puas waktu menggorok ario bayu dan menancapkan matanya di gagang gelas anggur. apakah kita telah dibikin senumb gambir juga sehingga kita bisa tenangtenang saja menonton scene ini malah tersenyum penuh syukur o lucunya ? dan yang lebih penting lagi gambir yang dulunya sekedar penonton masokis di depan tv yang menayangkan channelchannel gore di herosase sekarang berubah menjadi aktor utama super sadistis yang mempersembahkan episode unggulan dalam film seri channel 13 starring thalida sasongko (karena seperti dari footage koh jimmy yang darahnya muncrat dan menumpahi lensa kamera di depannya waktu lehernya digorok kita tahu bahwa christmas dinner ini pun direkam oleh hidden camera herosase) ! the objectified becomes the subject ! the oppressed becomes the oppressor ! atau mungkin selama ini gambir adalah aktor utama di channel 14 herosase: sebuah bildungsroman gore seorang psikopat, pollock meets braindead ? sampai di sini pintu terlarang seperti penyempurnaan kala film joko anwar sebelumnya yang juga berusaha mengkombinasikan cerita legenda dan gore kacangan dengan kritik sosial. sampai di sini sangat berhasil. ceritanya lebih seru dan kritiknya juga nyampe. sayangnya setelah scene christmas dinner ini masih ada tiga scene lagi yang malah seakan mengingkari argumenargumen film ini sendiri. film ini jadi berubah menjadi sebuah bathtub story seperti cerita2 tentang monster bertetek lima yang mengejarngejar kita dengan sinar laser yang memancar dari putingputingnya tapi kemudian untungnya ini semua cuma mimpi dan nenek sudah menyediakan segelas susu coklat dan roti pake meisjes warnawarni buat sarapan yang sering kita karang waktu SD. karena ternyata anak kecil yang disiksa tadi adalah gambir sendiri dan gambir yang sebenarnya ternyata sekarang meringkuk di salah satu sel bawah tanah di museum fatahillah yang sudah disulap jadi sanatorium. seluruh film ini termasuk scene gorrific christmas dinner tadi semuanya ternyata hanya ada di kepalanya ! mungkin juga memang film pintu terlarang ini hanya satu dari sekian banyak film yang sudah berputar di kepala gambir sejak di umur delapan tahun ia menggorok leher kedua orang tuanya tapi tidak menggorok lehernya sendiri seperti dalam aborted bildungsromannya versi pintu terlarang dan kemungkinan ini lucu juga tetapi tetap saja secara filosofis scene in bikin kentang. apalagi setelah ini seperti layaknya dalam kebanyakan ceritacerita sekar ayu asmara penulis transexual novel pintu terlarang yang ceritanya diadaptasi jadi screenplay oleh joko anwar masih ada lagi juga twist yang seperti juga di ceritacerita sekar ayu asmara yang lain mungkin dimaksudkan untuk menunjukkan betapa banyaknya twists dalam kehidupan manusia atau mungkin di kepalanya sendiri: gambir yang telah keluar dari sanatorium ternyata telah jadi romo* yang dengan tekun mendengarkan pengakuan seseorang yang baru saja membunuh istrinya sendiri. o how ironic life is and how hypocritical our deeply religious semi-urban society ! dan film pun berakhir dengan shot patung bunda maria. saya tidak ingat patungnya bunting atau tidak.



*p.s. apakah akan pernah ada film yang mengandung kritik sosial macam ini termasuk kritik terhadap hipokrisi moral yang berlandaskan nilainilai agama di indonesia tapi memakai setting makanmakan lebaran dan kultum di masjid ? kassian aja agama kristen/katolik selalu disuruh memanggul salib dosa semua agama yang telah turut berkontribusi dalam kebobrokan moral ini.

Thursday, 8 January 2009

The Latitudes of Heterosocial Motility within Homosexual Desire in Matthew Lewis’s The Monk*


textual authority, propelled, in part, by capitulation to sexual desires,

governed by nefarious intervention, the manner by which egregious schemes transpire,

a patriarchal authority relegated by requisite friendship:


“Let us forget the distinctions of sex, despise the world’s prejudices, and only consider each other as Brother and Friend. Live then ! Oh ! live for me !”


homosocial sentimentality, but also the protean and indistinct characterization of the relationship in which they thrive !

 

sexualized command and feminine influences enfeeble power,

privilege the woman within the male/female binary. in turn.

the seeming intermediary between semiotic motilities pervades the confines of

homosocial sphere via the confluence of feminine and occult autonomy—Lucifer himself.


to this end, the Devil’s synchronous “maleness” and “femaleness,”

in conjunction with his supernatural predominance, ultimately establishes his victory:


“I had already triumphed: My plots had already succeeded. Scarcely could I propose crimes so quick as you performed them. You are mine, and Heaven itself cannot rescue you from my power.”


Satan deftly maneuvers within the homosocial and heterosexual bonds,

forging mastery through the conflation of his own desires with God's profligate sexuality.

 

what would Man do ?


“Endanger his own position as a subject in the relationship of exchange: to be permanently feminized or objectified in relation to other men ? Temporarily compromising his masculinity in order to gradually vanquish his ecclesiastical, yet pretentious, proclivities ?"


          

‘Thine, ever thine!’ murmured the Friar, and sank upon her bosom.'


Satan’s masculine existence as a woman “penetrated” by the other man’s emancipated sexuality, hid masculine force. Though at first prostrate within a female body, Satan perspicaciously transposes the idealization of masculinity into the egregiousness of his female counterpart, thus demonstrating His artful role as an object of both homosocial and heterosexual desire.

 

“Those afflicted or affected by psychosis have put up in its place the image of the Mother: for women, a paradise lost but seemingly close at hand, for men, a hidden god but constantly present through occult fantasy.” (emphasis thine !).




*cobbled from here

The Latitudes of Homosocial Motility within Heterosexual Desire in Matthew Lewis’s The Monk*


i was reading the monk when i realised i was in paris with my mum. it was early morning, still dark, and she had already gone for her morning walk. she had been taking pictures of unemptied rubbish bins around champs-élysées and abandoned rent-a-bikes everywhere that she said look like dead bodies.

'they used to push a lot of maghrebiens into the seine you know.'

i dont remember what i said in return. but i was reading the monk and had gotten to the bit when rosario/matilda was sent to the dungeon with the baby still in her belly, and i found it hard to think about death in such a beautiful city. though i saw the bullet holes on the walls of buildings near where the paris commune was. i stuck my index finger in one of them and the sandstone felt cold.

'they used to drink their blood.'

my mum makes things up all the time, she lies like ambrosio, but sometimes its hard to read her expression, if shes seriously joking or has gone totally bonkers. she hates black men too. she once refused to watch hotel rwanda because she didnt feel like watching a bunch of negroes shooting at each other. i was up to page 434 as i thought of these things.

'why dont you go with us to nice its nicer there.'

nice one, mum. i hate finishing off a good book. i wish it would go on forever. thats why i sometimes read a book back to front so it ends where it begins and thus never ends. hows that for a bushism. trés zen, non !? i dont have an exit strategy for this poem but thats alright coz i do not accept responsibility for it or for any other thing in my life. i think i should never have started it in the first place.



*pilfered from here



Wednesday, 7 January 2009

Tuesday, 23 December 2008

Saya tidak akan fotocopi blog entrymu lagi Saya tidak akan fotocopi blog entrymu lagi Saya tidak akan fotocopi blog entrymu lagi Saya tidak akan fotocopi blog entrymu lagi Saya tidak akan fotocopi blog entrymu lagi Saya tidak akan fotocopi blog entrymu lagi Saya tidak akan fotocopi blog entrymu lagi Saya tidak akan fotocopi blog entrymu lagi Saya tidak akan fotocopi blog entrymu lagi Saya tidak akan fotocopi blog entrymu lagi

Rating:★★★
Category:Other
wetiga ternyata jauh lebih kecil dari yang kami bayangkan. Selama ini kami hanya pernah melihat foto-foto tempat ini melalui website-nya, sebuah angkringan 2.0 yang katanya dibanjiri lebih dari 50 blogger dengan GDP (Geek Domestic Profile) satu notebook + satu netbook + paling tidak satu geniusphone per kapita pas pembukaannya. Kami pikir tempat secanggih itu pasti bisa memuat penonton dalam jumlah tidak terbatas. Bagus, karena kelihatannya KebunKata ‘Fotocopi’ kali ini akan dihajar pengunjung yang banyak, karena selain patron-patron BuMa yang biasanya, Anya dan Mikael juga akan membawa murid-murid Poetry Workshop mereka yang diadakan bareng majalah Cheng (haikuis handal semuanya!), dan iqbalibul si empunya wetiga juga telah mengundang teman-teman Pesta Plurker 2008-nya. Selain itu tentu saja ada 4,362 orang yang telah memencet ‘Yes’ pada pertanyaan ‘Will you be attending this event?’ di laman facebook mereka. Facebook/email/Y!M/yahoogroups blast kali ini kelihatannya benar-benar gokil punya berkat poster dan flyer yang didesain dengan ciamik oleh gedongproject dan hatihitam. Kami memang tidak terbiasa dengan acara-acara kecil yang sok akrab.

Sore itu, Sabtu, 20 Desember 2008, saat berdiri di depan angkringan yang masih belum ada secuil pun tape bakarnya, saya, Mikael, dan Kartika, Ana, Wuri, dan Oswald anak-anak dari poetry workshop tadi langsung panik. Rasanya tak mungkin bahkan mengisi ruangan yang kata orang Betawi ‘angin kentut juga kagak molos’ ini dengan penonton, karena sekarang sudah jam 19.00 dan hanya kami yang sudah datang! Memang pada saat bersamaan ada beberapa acara menarik lainnya yang sedang berlangsung. Sebagian besar anak BuMa sedang menghadiri kawinan Tika BuMa, dan salah satu moderator yang biasanya paling jago membakar massa rasanya pengen saya bakar saja jenggotnya karena disms dan ditelponin gak jawab-jawab.

Karena terbiasa dengan acara yang ramai dan meriah, tentunya kami tidak ingin tampil dalam ruang yang kecil dan itupun kosong melompong, bukan?

Di pelataran parker yang serba conblock dan geli-geli basah habis hujan, gedongproject membentangkan 20 meter lino yang baru saja ia beli di Blok A karena baru sore itu kami mendapat SMS dari iqbalibul memberitahukan kalau walaupun dia yang usul acaranya lesehan saja tapi wetiga tidak menyediakan tikar! Karena kami tak yakin kalau semua anak BuMa adalah kaum asketik seperti kami yang terbiasa duduk di papan berpaku, maka meluncurlah gedongproject di atas kereta SupraFit-nya yang super irit 1:55. Tapi sudahlah, kami sudah terlanjur di sini, sekalian saja bersenang-senang dan jadikan acara ini seperti KebunKata BungaMatahari seperti biasa!

Sambil berusaha menekan rasa panik dan stress, kami bersiap-siap. Saya berkutat dengan MacBookPro, proyektor in-focus, dan sambungan wi-fi yang ternyata lo-fi, sementara gedongproject mempersiapkan puisi fotocopi visual-nya yang sumpah jenius (berupa apropriasi found text di dalam dan sekitar Kebun Raya Bogor) dan mari kita semua berdoa semoga segera ia upload di YouTube. Setelah itu kami masih harus direpotkan dengan di mana membeli bir karena warung ini andalannya susu jahe.

Jarum jam menunjukkan pukul 19:30, penonton mulai berdatangan. Kaget juga saya melihat banyak penggembira Pesta Plurker 2008 yang datang lumayan awal. Kemudian akhirnya ada juga anak BuMa lain yang datang, poetry slammer jorgy dan anak BuMa baru dari Jogja, Saut Situmorang.

Lino bermotif parket Rp 9000,-/m mulai terisi, belum ada yang siap membuka acara, dan browser di laptop gedongproject menolak bekerja karena bajakan punya. Putus asa tak berhasil mengutak-atik Flock 2.0 (Beta version)-nya, kami putuskan pakai saja laptop iqbalibul yang ternyata berwallpaper foto ceweknya yang juga anak BuMa cieee. Akhirnya gedongproject habis kesabarannya menanti youknowwho dan setelah basa-basi sebentar langsung membuka acara dengan membacakan satu puisi Hasan Apsashoney (ayo gedong tolong copypaste yang mana).

Acara dimulai. Saya kemudian membacakan puisi ‘Spirit’, karya Tomy DG yang ia fotocopi dan perkosa dari ‘Aku’-nya Chairil Anwar (‘Ku tak perlu minuman soda itu!’), kemudian saya mengundang Oswald, Kartika, dan Ana untuk mempermalukan guru workshop mereka dengan membacakan puisi-puisi mereka sendiri yang asyik punya (contoh: ‘hitam rambutnya/tak sehitam hatinya/pendek tubuhnya.’ Perfect senryu!), kemudian Endang Johani, anak baru BuMa juga, membaca puisi tentang anaknya yang menurutnya ‘difotocopi dari saya, tapi hasilnya buram’ dan mengundang tawa terbahak-bahak dari hadirin (siyal!). Tapi, bukannya kesal, saya malah bersyukur, karena paling tidak suasana sekarang sudah santai.

Saya tak mau bicara panjang-panjang. Hanya ingin bercerita bahwa mungkin karena harapan yang terlalu menggunung karena promosi yang okeh, acara yang mungkin sebenarnya sudah lumayan okeh, apalagi setelah jorgy tampil dan acha menggebrak dengan solo jembenya (don’t do a peterpan on us please otak and chair!) terasa agak adem-ayem padahal udara panas keringetan bau bir hasil belanja gedongproject di Lingkaran K.

Yang sempat tampil juga malam itu adalah anak BuMa baru dari Jogja, Saut Situmorang, yang mempertontonkan versi video poetry sajaknya ‘di kepalaku ada gempa’ yang dimuat di buku kumpulan puisinya ‘otobiografi’ (di situ berjudul 'bapa kami yang ada di sorga') dan bisa disaksikan di multiplynya. Kemudian Yusak anak BuMa Bandung yang berlambaian tangan ala Ratu Elizabeth dengan bayangannya sendiri di tembok yang kita tembak dengan infocus yang siap menayangkan blog siapapun yang mau membaca puisi langsung dari situ.

Sesuai dengan semangat BungaMatahari yang percaya semua bisa berpuisi, saya terus mengajak hadirin untuk maju ke depan dan berpuisi. twosmokingbarrels, salah satu pendiri BuMa yang lama bertapa menekuk lutut kemudian meluruskannya kembali dalam irama dangdut Jamaika akhirnya tampil juga setelah lama absen dari dunia kangouw BunKat, ditodong membawakan salah satu puisi dahsyat di thread ‘tante d lagi apa? buat puisi, ya?’ di multiplynya, kemudian pendiri BuMa yang satunya lagi, violeteye membawakan puisi andalannya ‘pilih sendiri petualanganmu’ yang membuat malam jadi terasa makin panas dan kelam (in a good way).

Penampil makin banyak, dan insomnia saya semakin menggila. Tak apa, kalian yang merasa dilupakan, silakan hajar saya di thread reply. Oya, sebelum lupa, penampil satu lagi yang saya ingat dan penampilannya mengejutkan karena rambutnya sudah tak lagi gondrong adalah gema yang masih juga mengalirkan spirit Jim Morrison walaupun penampilannya sekarang lebih Morrissey.

Waktu yang tadinya terasa berjalan lambat sekali, tiba-tiba sudah hampir habis. Acara lambat laun tutup sendiri seiring dengan perpindahan orang lebih mendekat ke gerobak angkringan yang menawarkan berbagai macam cemilan gaya Surakarta Hadiningrat. Suara saya membacakan puisi anak baru BuMa dari Jogja, Saut Situmorang, ‘kinda blue’, diiringi gitar delta blues Robert Johnson jorgy, tidak cukup kuat melawan suara arang berkeletik membakar sate babat.

*sesuai dengan spirit tema BunKat ini, ‘fotocopi’, laporan pandangan mata ini saya curi semua kata-kata(dan spirit)nya dari salah satu hasil reportase investigatif jurnalis sastrawi BuMa, si cawathitam, di sini.

Sunday, 14 December 2008

BungaMatahari: KebunKata 'Fotocopi'

Start:     Dec 20, '08 7:00p
End:     Dec 20, '08 11:00p
Location:     Wetiga (Warung Wedangan Wi-Fi)
Fuck poetry, baby. Lupakan naskah pengayaan sastra nusantara yang harus kau selesaikan besok pagi. Aku sudah siap dengan seragam sembalap penantang maut dari kulit biri-biri yang kau jahit bulan lalu. Kau sudah janji membaluri lengkung pinggang panggulmu dengan madu. Asli. Bukan palsu.

Jangan lupa fotokopi. Sisakan satu untukku.

Fuck poetry, baby. Novel cinta yang kita gangbang minggu lalu, habis ditelan graffiti. Aku janji membeli yang baru untukmu. Kau tiarap wangi kertas baru.

Jangan lupa fotokopi. Biarkan madu di ketiakmu.

Fuck poetry, baby. Burung merak yang kita beli di Pasar Barito tak henti-hentinya menyalak. Padahal aku kasih dia makan sesuai petunjuk yang menempel di sangkarnya. Seratus lima puluh juta. Dalam pecahan apa saja.

Jangan lupa fotokopi. Kicauannya membuatku tegak.

Fuck poetry, baby. Kita mabuk facebook kenyang wiki muntah yahoo. Mereka tak sabar mencuci jendela kita yang busuk, mengganyang apel kita yang seksi, mengunyah seragam kita yang abu-abu.

Jangan lupa fotokopi. Celanaku mulai sesak.

Fuck poetry, baby.

Terlalu banyak kopi hari ini.



BungaMatahari mengundang teman-teman yang ingin menghabiskan malam tanpa kegiatan berarti, dalam acara KebunKata ‘Fotocopi’, hari Sabtu, 20 Desember 2008, pukul 7 malam sampai kentongan darurat berbunyi, di:

Warung Wedangan Wi-Fi (wetiga.com)
Jalan Langsat 1/3a
Kramat Pela, Kebayoran Baru
Jakarta 12120
Telepon +62 815 7485 2877

Notebook, netbook, kasur kapuk, bujang lapuk, semua diterima di sini. Puisi, caci maki, gosip murahan, dan ketawa cekikikan, adalah sebagian dari menu yang kami sediakan untuk kalian.

Jangan berharap ketemu nama-nama terkenal. Yang ada hanya anak-anak nakal dan orang tua binal. Puisi? Pasti ada. Foto-foto? Sama saya aja. Cemilan dan kopi? Bayar sendiri!

Yang tak bisa datang jangan cemberut jangan kecewa. Nona GeekChickRompas biang keladi BungaMatahari yang super jelita, dan teman-temannya yang tak kalah sempurna, akan melayani rayuan puisi kalian dalam liveblogging di saluran Multiply dan Facebook BungaMatahari.

Tunggu apa lagi? Pastikan koneksi Internet kalian mumpuni. Pergi ke warung terdekat dan bekali diri dengan indomie telor kornet dan kopi susu, ganti kemeja dasi rok blazer hasil berburu di ITC dengan kolor dan daster, lalu duduk manis di depan komputer. Yes, baby! KebunKata lagi!

Wednesday, 19 November 2008

tentang seorang satanis yang gemar mendengarkan lagu-lagu santri*


ia dengarkan mp3 yang masih copy-protected itu satu persatu
tentang allah, paradiso, suci nan dududududum
 
mencipta dunia untuk sendiri termangu
di kefanaan konser burzum



*balasan buat 'tentang seorang santri yang gemar mendengarkan lagu-lagu satanik' besutan yoshi f/gedongproject di sini